Sourdough starter/Ragi alami

Belum pernah bikin roti, lalu iseng belajar bikin ragi alami dari ahlinya (memang gak terlalu tertarik rerotian pake instant yeast, paling dibuat donat, pizza dan itu pun yang nguleni suami 😄).
Prinsip pembuatan ragi alami ini adalah menumbuhkan bakteri dan ragi liar melalui proses fermentasi tepung dan air. Ragi dibuat pada suhu ruangan 26,5-29 derajat Celcius. Perbandingan starter:tepung:air 1:2:2 dengan interval feeding setiap 12 jam (saran feeding dilakukan antara jam 6-9 agar tdk mengganggu waktu tidur malam). Bakteri akan menghasilkan lactic acid yang memberikan rasa asam sehingga dinamai sourdough.
Roti sourdough konon lebih sehat krn laju metabolisme gula lbh lambat, zat antinutrisi lebih rendah shg tubuh mampu menyerap lebih banyak mineral, less gluten, dan mengandung probiotik.
Yeayy let's produce dopamin.
Sourdough starter/Ragi alami
Belum pernah bikin roti, lalu iseng belajar bikin ragi alami dari ahlinya (memang gak terlalu tertarik rerotian pake instant yeast, paling dibuat donat, pizza dan itu pun yang nguleni suami 😄).
Prinsip pembuatan ragi alami ini adalah menumbuhkan bakteri dan ragi liar melalui proses fermentasi tepung dan air. Ragi dibuat pada suhu ruangan 26,5-29 derajat Celcius. Perbandingan starter:tepung:air 1:2:2 dengan interval feeding setiap 12 jam (saran feeding dilakukan antara jam 6-9 agar tdk mengganggu waktu tidur malam). Bakteri akan menghasilkan lactic acid yang memberikan rasa asam sehingga dinamai sourdough.
Roti sourdough konon lebih sehat krn laju metabolisme gula lbh lambat, zat antinutrisi lebih rendah shg tubuh mampu menyerap lebih banyak mineral, less gluten, dan mengandung probiotik.
Yeayy let's produce dopamin.
Cara Membuat
- 1
Hari 1: Buat starter dengan cara mencampurkan 50 g tepung + 50 g air ke dalam jar1 lalu aduk rata. Tutup namun tdk perlu terlalu rapat. Tandai batas awal adonan dgn karet gelang. Diamkan 20-24 jam. (Gambar adalah adonan stlh 24 jam)
- 2
Hari 2: masukkan 25 g adonan sebelumnya ke dalam jar 2, tambahkan 50 g tepung + 50g air, aduk rata. Tandai dgn karet gelang. Buang sisa adonan awal, cuci bersih jar1. Diamkan 12 jam (1st feeding). Adonan naik 2 kali lipat. Aroma mulai menyengat.
- 3
Hari 2: masukkan 25 g adonan sebelumnya ke dalam jar 1, tambahkan 50 g tepung + 50g air, aduk rata. Tandai dgn karet gelang. Buang sisa adonan awal, cuci bersih jar 2. Diamkan 12 jam (2nd feeding). Adonan naik 3 kali lipat, ada bubble, aroma agak menyengat.
- 4
Ulangi langkah 1-2 hingga hari ke 5 atau hingga terbentuknya ragi. Hingga hari ke 3 1st feeding adonan selalu naik, setelahnya selalu hampir tidak naik, sedikit bubble, aroma menyengat hilang.
- 5
Foto hari ke 4-5. Kondisi tidak berubah
- 6
Foto hari ke 6-7. Kondisi tidak berubah. Seharusnya di hari ke 6 ragi sudah terbentuk (dengan tanda aktif/naik kembali). Jika hasilnya seperti ini, maka teruskan saja feeding. Adonan pada hari 7 dan 8 saya tinggal 2 malam, suami saya yang lakukan feeding 😋
- 7
Pada hari 9, adonan kembali naik, banyak bubble. Pertanda mulai menjadi ragi.
- 8
Hari ke 10, adonan konsisten naik setelah feeding 2 kali --> pembuktian bahwa ragi sudah terbentuk.
- 9
Lakukan float test: masukkan adonan ke dalam air, siap digunakan jika mengambang
- 10
Hari ke 11, saya akan membuat roti. Campurkan 60 g adonan sebelumnya + 60 g tepung + 60g air (1:1:1) dalam jar baru, aduk rata. Dalam 3-4 jam ragi naik 2 kali lipat. Siap digunakan untuk pembuatan roti.
- 11
Jika ragi sudah jadi, bisa disimpan di dalam kulkas (chiller). Saat akan digunakan, keluarkan hingga suhu ruangan, beri feeding 1:1:1 agar naik dalam 3-4 jam. Setiap adonan yang dibuang dari ragi yang sudah jadi bs dimanfaatkan untuk membuat pancake, donat, crackers, dll (tdk perlu dalam kondisi peak)
- 12
Agar ragi kuat dan prima, simpan kulkas dan beri feeding seminggu sekali (sekalian ganti jar agar terhindar dari jamur)
Resep Serupa
Rekomendasi Resep Lainnya





















Komentar (7)