Sampok Pisang Sehat Cetakan Ibu "Desa"

Ibu "Desa"yang tulus menyajikan makanan pengganjal perut warganya, di sebuah desa kecil di Jawa Tengah bernama krandan. Inilah yang pertama aku pikirkan ketika tak sengaja aku menemukan cetakan kuningan usang berdebu. Cetakan yang berada di gudang itu milik almarhum nenekku. Sontak saja aku teringat begitu lihainya nenek membakar cetakan ini diatas bara api tempurung kelapa saat membuat santapan lezat dengan bahan sederhana. Hidangan buat anak cucunya juga tentunya buat warga desa kecil (almarhum kakek kades) yang pada saat itu sekitar tahun 60 an konon cerita masih "larang pangan ", masih banyak yang kekurangan. "Nduk berasnya ditumbuk lagi! Berikan makanan untuk mbah Wi tambah lagi kuenya kasihan anaknya banyak,"kata nenek.Aku masih ingat nenek selalu membedakan jumlah pemberian makanan sesuai jumlah keluarganya saat membagi hajatan, juga selalu mengirim kue dan makanan untuk orang yang kerja di sawah. Melihat cetakan ini, menginspirasiku meracik kue sederhana dengan pakai oat (seperti beras tumbuk zaman dulu) buat buah hatiku dan keluarga. Semoga dari cetakan ini bisa menghasilkan banyak kue cinta minimal buat keluarga apalagi bisa
menyenangkan orang lain. Ketulusan hati lah yang akan menghidupkan rasa kue cinta. Selamat jalan ibu "desa " semoga lahir pemimpin yang tangguh walau zaman sudah berubah.
Sampok Pisang Sehat Cetakan Ibu "Desa"
Ibu "Desa"yang tulus menyajikan makanan pengganjal perut warganya, di sebuah desa kecil di Jawa Tengah bernama krandan. Inilah yang pertama aku pikirkan ketika tak sengaja aku menemukan cetakan kuningan usang berdebu. Cetakan yang berada di gudang itu milik almarhum nenekku. Sontak saja aku teringat begitu lihainya nenek membakar cetakan ini diatas bara api tempurung kelapa saat membuat santapan lezat dengan bahan sederhana. Hidangan buat anak cucunya juga tentunya buat warga desa kecil (almarhum kakek kades) yang pada saat itu sekitar tahun 60 an konon cerita masih "larang pangan ", masih banyak yang kekurangan. "Nduk berasnya ditumbuk lagi! Berikan makanan untuk mbah Wi tambah lagi kuenya kasihan anaknya banyak,"kata nenek.Aku masih ingat nenek selalu membedakan jumlah pemberian makanan sesuai jumlah keluarganya saat membagi hajatan, juga selalu mengirim kue dan makanan untuk orang yang kerja di sawah. Melihat cetakan ini, menginspirasiku meracik kue sederhana dengan pakai oat (seperti beras tumbuk zaman dulu) buat buah hatiku dan keluarga. Semoga dari cetakan ini bisa menghasilkan banyak kue cinta minimal buat keluarga apalagi bisa
menyenangkan orang lain. Ketulusan hati lah yang akan menghidupkan rasa kue cinta. Selamat jalan ibu "desa " semoga lahir pemimpin yang tangguh walau zaman sudah berubah.
Cara Membuat
- 1
Siapkan bahan.
- 2
Kelapa diparut, tambahkan semua bahan, diremas hingga pisang halus dan kelapa keluar santannya. Bisa menambah gula bila suka manis.
- 3
Oles cetakan kuningan dengan minyak goreng atau margarin. Saya pakai dua-duanya. Panaskan di atas kompor. Disini saya pakai kompor gas, dengan menyusun 2 tatakan kompor sehingga api tidak mengenai cetakan langsung. Cetakan bisa diganti teflon/doble pan walau hasil kuenya kurang ada gosongnya.
- 4
Setelah panas kecilkan api. Masukkan adonan sambil ditekan.
- 5
Tekan adonan dengan pengadu kayu, lalu dibalik.saya lupa mengecilkan api agak sedikit kecokelatan heee.
- 6
Matikan kompor. Sambil menekan adonan yang barusan dibalik hingga padat.
- 7
Kompor dihidupkan lagi dengan api kecil.Tunggu sampok matang kedua sisi. Matikan kompor. Biarkan sampok di dalam cetakan sampai agak dingin. Barulah cukil dengan tusuk sate.
- 8
Sampok sederhana buat keluarga siap dimakan. Buat putri kecilku yang ikut ibu di dapur sampok spesial sehat,nak.
Resep Serupa
Rekomendasi Resep Lainnya










Komentar