Kue Cucur Gula Merah

Kue Cucur memiliki jejak sejarah yang panjang di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Thailand (dikenal sebagai Khanom Fak Bua). Di Indonesia sendiri, kue ini identik dengan budaya Betawi dan juga sangat populer di berbagai daerah di Jawa dan Madura. Nama "Cucur" konon berasal dari teknik pembuatannya, yaitu cara menuangkan adonan ke dalam wajan yang disebut "dikucurkan".
Secara tradisional, Kue Cucur bukan sekadar kudapan, melainkan simbol keberlimpahan dan doa. Bentuknya yang bulat menyerupai matahari dan serat-seratnya yang menyebar dari tengah ke pinggir dianggap melambangkan rejeki yang terus mengalir. Karena itulah, kue ini hampir tidak pernah absen dalam upacara adat, selamatan, hingga perayaan pernikahan tradisional sebagai simbol harapan akan kebahagiaan yang melingkar tak terputus.
Kue Cucur Gula Merah
Kue Cucur memiliki jejak sejarah yang panjang di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Thailand (dikenal sebagai Khanom Fak Bua). Di Indonesia sendiri, kue ini identik dengan budaya Betawi dan juga sangat populer di berbagai daerah di Jawa dan Madura. Nama "Cucur" konon berasal dari teknik pembuatannya, yaitu cara menuangkan adonan ke dalam wajan yang disebut "dikucurkan".
Secara tradisional, Kue Cucur bukan sekadar kudapan, melainkan simbol keberlimpahan dan doa. Bentuknya yang bulat menyerupai matahari dan serat-seratnya yang menyebar dari tengah ke pinggir dianggap melambangkan rejeki yang terus mengalir. Karena itulah, kue ini hampir tidak pernah absen dalam upacara adat, selamatan, hingga perayaan pernikahan tradisional sebagai simbol harapan akan kebahagiaan yang melingkar tak terputus.
Cara Membuat
- 1
Rebus air, gula merah, gula pasir, garam, dan daun pandan hingga mendidih dan gula larut sempurna. Saring dan biarkan hingga suhu menjadi hangat kuku.
- 2
Dalam wadah besar, campurkan tepung beras dan tepung terigu. Tuangkan larutan gula hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan whisk atau tangan hingga adonan licin dan tidak bergumpal.
- 3
Aduk adonan dengan tangan atau whisk selama kurang lebih 10–15 menit. Proses ini sangat penting untuk memasukkan udara ke dalam adonan agar seratnya terbentuk sempurna.
- 4
Tutup wadah dan diamkan adonan minimal satu setengah hingga dua jam. Semakin lama didiamkan (hingga empat jam), serat yang dihasilkan akan semakin bagus.
- 5
Panaskan sedikit minyak (sekitar 4-5 sendok makan saja) di dalam wajan cekung kecil (wajan besi/wok kecil lebih baik). Gunakan api sedang cenderung kecil.
- 6
Tuang satu sendok sayur adonan tepat di tengah minyak panas. Biarkan hingga pinggirannya mulai mengeriting dan berserat menuju ke tengah. Siram-siram bagian tengah yang masih basah dengan minyak panas di pinggirannya hingga matang dan "puser"-nya menonjol.
- 7
Setelah bagian pinggir renyah dan tengah matang, tusuk bagian tengah dengan lidi untuk memastikan kematangan, lalu angkat dan tiriskan.
Tips
1. Jangan mencampur air gula yang masih mendidih ke tepung karena akan membuat tepung "matang" prematur dan adonan bantat. Pastikan suhunya hangat kuku.
2. Jangan terburu-buru menggoreng. Proses pendiaman adalah kunci agar tepung beras menyerap cairan sepenuhnya dan menciptakan serat yang panjang.
3. Gunakan wajan yang benar-benar cekung (bukan teflon datar) agar adonan berkumpul di tengah dan membentuk motif topi yang cantik.
Resep Serupa
Rekomendasi Resep Lainnya



Komentar